![]() |
| Photo A.Mering for Pontianak Post |
SUKADANA – Demi
menyampaikan pesan-pesan perubahan iklim di tingkat komunitas dan publik
melalui media film, tim USAID IFACS menyelenggarakan workshop penguatan
kapasitas kepada jurnalis televisi (TV) lokal. Lokasi workshop
berlangsung di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, 18 – 20 April lalu.
Peserta sebanyak sepuluh orang, berasal dari Ruai TV, Ketapang, Melawi,
dan Sukadana. Kemudian ada juga utusan dari Grantee, Sampan, dan Caritas
Keuskupan Ketapang.
“Pelatihan ini untuk
meningkatkan pemahaman para peserta workshop mengenai isu perubahan
iklim, kemudian dapat mengkomunikasikan isu-isu tersebut melalui audio
visual. Memberikan teori dan praktik kepada jurnalis tv lokal mengenai
tahapan proses pembuatan feature (kisah, red) tv dan film dokumenter,”
kata Asriyadi Alexander, officer communications USAID IFACS di Hotel
Mahkota Kayong Sukadana, Sabtu (19/4) lalu.Keluaran dari workshop ini, diharapkan Mering, sapaan karibnya, menjadikan para jurnalis TV lokal dan para peserta pelatihan, memiliki persepsi yang memadai tentang isu-isu yang terkait perubahan iklim lokal maupun global. Memahami dan mampu mempraktikkan tahapan-tahapan proses, seperti pra produksi, produksi, dan pascaproduksi, ihwal pembuatan TV feature, dan pembuatan film dokumenter.
“Pelatihan ini juga menghasilkan minimal tiga feature TV berdurasi tiga menit dan hasil kerja kelompok peserta. Kemudian adanya rencana tindak lanjut berupa liputan atau proposal individual pembuatan feature tv,” jelas mantan jurnalis salah satu media cetak harian di Kalbar tersebut.
Workshop ini menghadirkan narasumber seperti Yudi Nofiandi dan Melly Nurmawati. Narasumber Yudi Nofiandi ini merupakan seorang director, juru kamera, dan redaktur dari Gekko Studio. Film bikinanya mendapat penghargaan terpuji di Festival Film Alam Liar ke-9 di Jepang, menjadi juru kamera di Film My Forest Tears, bahkan pernah juga memenangi penghargaan terbaik di Festival Film Asia-Ocean New Comer Award dan Nepal Indigenous People.
Film karya sineas Yudi Nofiandi juga pernah tampil Waigeo The Lost Paradise. Pada tahun 2009 masuk sepuluh kategori sineas terbaik. Berpengalaman lebih dari lima tahun sebagai fasilitator dan video maker untuk isu-isu masyarakat adat, kehutanan, dan lingkungan hidup.
Sedangkan narasumber Melly Nurmawati ini editor film, aktif di Telapak's Multimedia Unit Bussiness (Gekko Studio). Dia juga merupakan seroang film programmer, bahkan pernah berlaga di South to South ketiga di tahun 2010.
“Workshop pada 18 April dipusatkan di Ketapang untuk mempelajari teori, bikin story line (jalan cerita, Red), bedakan feature TV dengan film dokumenter. Kemudian ada diskusi mengenai perubahan iklim yang dipandu Rizki Mulyadi. Pada 19 April pindah ke Sukadana untuk mempraktikkan ilmu yang didapat dengan turun ke lapangan, menjadi jurnalis tv di tengah-tengah masyarakat,” kata Mering.
Peserta workshop dibagi empat kelompok. Seperti kelompok Angin, meliput listrik pembangkit tenaga piko (lebih kecil dari mikro) hidro. Kelompok Udara, meliput pengrajin dan pembuat anyaman yang menghargai alam dan hutan. Kelompok Tanah, meliput petani desa Pampang Harapan yang turun gunung tidak merambah hutan lagi dan bercocok tanam menetap. Kelompok Air, meliput bantuan kambing kepada janda-janda di Sukadana untuk meringankan beban ekonomi.
“Audio visual merupakan satu di antara media penyampaian informasi yang mampu menembus keterbatasan media lain. Kemampuan media audio visual dalam memvisualisasikan gambar dan suara, menjadikannya sebagai media alternatif yang banyak diminati. Sebab, mudah diaplikasikan sebagai media pembelajaran dan juga mudah dipahami penerima informasi di sekitar konservasi hutan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan,” jelas Mering. (mah)
Sumber berita: http://www.pontianakpost.com/pro-kalbar/kayong-utara/14644-penguatan-kapasitas-jurnalis-tv-lokal.html
