Demikian diungkapkan A. Alexander Mering, Communication
officer USAID IFACS, usai pelaksanaan training
dan workshop video untuk penguatan
Jurnalist TV lokal di Sukadana, Selasa (22/5) kemarin.
“Para peserta belajar mengabadikan inisiatif-inisiatif lokal
tersebut melalui lensa kamera, kemudian
membuatnya menjadi film atau video
sebagai media pendidikan lingkungan kepada publik,” kata Mering.
Yang dimaksud Mering adalah, inisiatif yang dibangun warga
setempat bersama Yayasan Palung mengenai pemanfaatan air untuk listrik
Picohydro, kemudian adat Tetinjauan, dan budaya menganyam di beberapa desa di
Kabupaten Kayong Utara. Fakta-fakta inilah yang kemudian diangkat para peserta
training dan workshop yang
diselenggarakan USAID-IFACS dari tanggal
18-20 April 2014 lalu. Selain ketiga
tema di atas, para peserta juga mengangkat kisah tentang program Kambing Janda
yang dilakukan Yayasan Asri di beberapa desa di Kayong Utara. Film berdurasi 3-5 menit berbentuk feature TV tersebut diharapkan bisa
menjadi media berbagi pengetahuan isu-isu climate change dan konservasi antara
sesama masyarakat , baik di Kabupaten Kayong Utara maupun warga Kalimantan
Barat pada umumnya.
Menurut livelihood Coordinator Yayasan Palung,
F. Wendy Tamariska, selama ini apa yang telah dilakukan masyarakat
di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mestinya mendapat
penghargaan. Karena kata dia, sejak beberapa tahun pihaknya bekerja bersama
masyarakat di wilayah itu, mereka menemukan banyak sekali praktik-praktik
cerdas masyarakat yang sebenarnya
berkontribusi besar pada penyelamatan kawasan TNGP, namun belum mendapat
dukungan kuat dari pemerintah, termasuk yang diangkat oleh peserta workshop
menjadi video. TNGP terletak di
Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat dengan luas TNGP sekitar 90.000
hektar.
“Kami sering mendengar keluhan warga, orang hutan lebih
diperhatikan dibandingkan masyarakat. Mengapa bukan masyarakat yang ditolong?”
kata Wendi. Karena itulah dia dan
lembaganya yang berpusat di Ketapang itu, kemudian mulai focus pada persoalan-persoalan livelihood di sana. Karena kata dia, konservasi
harus dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Sebab jika ada alternative
penghidupan yang lebih baik, niscaya warga di sekitar TNGP tidak akan merusak hutan.
Press Rilis USAID-IFACS Region Ketapang
