Inisiatif Lokal Berkontribusi pada Konservasi TNGP

MENGANYAM-Darwani, salah satu dari 68 orang pengerajin dampingan Yayasan Palung yang tinggal di Desa Sejahtera.  Dia tidak sekadar menjalin bilah lidi nipah menjadi lekar, tetapi juga sebuah budaya yang membuat mereka tidak lagi perlu ke TNGP untuk merambah.  Dokumen USAID-IFACS

SUKADANA—Gerakan konservasi tidak lagi cukup sekadar hanya dengan menanam pohon, melarang warga merambah hutan, namun juga bisa dengan berbagai kreativitas yang melibatkan banyak pihak untuk melestarikan alam dan sekitarnya. 
Demikian diungkapkan A. Alexander Mering, Communication officer USAID IFACS, usai pelaksanaan training dan workshop video untuk penguatan Jurnalist TV lokal di Sukadana, Selasa (22/5) kemarin.
“Para peserta belajar mengabadikan inisiatif-inisiatif lokal tersebut melalui lensa kamera,  kemudian membuatnya menjadi film atau video  sebagai media pendidikan lingkungan kepada publik,” kata Mering.
Yang dimaksud Mering adalah, inisiatif yang dibangun warga setempat bersama Yayasan Palung mengenai pemanfaatan air untuk listrik Picohydro, kemudian adat Tetinjauan,  dan budaya menganyam di beberapa desa di Kabupaten Kayong Utara. Fakta-fakta inilah yang kemudian diangkat para peserta training dan workshop  yang diselenggarakan USAID-IFACS  dari tanggal 18-20 April 2014 lalu.  Selain ketiga tema di atas, para peserta juga mengangkat kisah tentang program Kambing Janda yang dilakukan Yayasan Asri di beberapa desa di Kayong Utara.  Film berdurasi 3-5 menit  berbentuk feature TV tersebut diharapkan bisa menjadi media berbagi pengetahuan isu-isu climate change dan konservasi antara sesama masyarakat , baik di Kabupaten Kayong Utara maupun warga Kalimantan Barat pada umumnya.
Menurut  livelihood Coordinator Yayasan Palung, F. Wendy Tamariska, selama ini apa yang telah dilakukan  masyarakat  di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) mestinya mendapat penghargaan. Karena kata dia, sejak beberapa tahun pihaknya bekerja bersama masyarakat di wilayah itu, mereka menemukan banyak sekali praktik-praktik cerdas masyarakat  yang sebenarnya berkontribusi besar pada penyelamatan kawasan TNGP, namun belum mendapat dukungan kuat dari pemerintah, termasuk yang diangkat oleh peserta workshop menjadi video.  TNGP terletak di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kalimantan Barat dengan luas TNGP sekitar 90.000 hektar.
“Kami sering mendengar keluhan warga, orang hutan lebih diperhatikan dibandingkan masyarakat. Mengapa bukan masyarakat yang ditolong?” kata Wendi.  Karena itulah dia dan lembaganya yang berpusat di Ketapang itu,  kemudian mulai focus pada persoalan-persoalan livelihood di sana. Karena kata dia, konservasi harus dilihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Sebab jika ada alternative penghidupan yang lebih baik, niscaya warga di sekitar TNGP tidak akan merusak hutan.

Press Rilis  USAID-IFACS  Region Ketapang
Lebih baru Lebih lama

ads