![]() |
| Photo: Warta Kayong |
SIMPANG HILIR – Musyawarah Rencana
Pembangunan (Musrenbang) Tahun 2015, kali ini membuat sebagian
masyarakat Simpang Hilir kecawa. Dari 12 desa yang ada di Kecamatan yang
dipimpin Mac Novianto, S.H, hanya 5 Kades saja hadir dalam acara
tersebut. Kelima Kades yang dimaksud, yaitu Plt. Kades Medan Jaya, Kades
Padu Banjar, Kades Sungai Mata Mata, Kades Batu Barat dan Kades Lubuk
Batu. Tujuh Kades yang lain bolos/alpa, tanpa berita.
Kepala Desa yang tak hadir dalam
Musrenbang Kecamatan Simpang Hilir (10/3/2014), yaitu Kades Pulau
Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning, Penjalaan, Rantau Panjang, Teluk
Melano dan Matan Jaya.
Pada hal ini menyangkut hajat hidup orang
banyak. Menyangkut Tugas Pokok dan Fungsinya sebagai Kades, yang
dipercaya masyarakat sebagai orang nomor satu di desanya. Bahkan ada
diantar kades tersbut, saat Musrenbangdes di desanya tidak hadir pula.
Bukan urusan dinas, tapi urusan pribadi.
Saat WK konfirmasi ke salah satu dari
tujuh Kades yang tak hadir mengatakan, bahwa saat ini mereka sedang di
Pontianak, mengikuti Diklat. Kamis – Jum’at (6 – 7 Maret 2014), mereka
masih menghadir Rapat Koordinasi di kabupaten. Entah diklat apa yang
mereka ikuti Sabtu-Minggu di Pontianak, sehingga mengabaikan tugas
pokoknya. Yang pasti masyarakat sangat kecewa atas sikap/tindakan Kades
yang mengabaikan tanggung jawabnya sebagai Kades.
Untuk membuktikan kebenaran penyataan
Kades tentang Pendidikan dan Latihan (Diklat) yang mereka maksud, WK
coba konfirmasi dengan pihak Kecamatan. Menurut Samad Sahari, Staf Camat
Simpang Hilir, jika Kades yang tak hadir hari ini karena alasan diklat,
tugas atau kegiatan dinas, pasti ada surat tembusan ke Camat. Tapi
tidak ada satu pun tembusan yang sampai ke Camat, dari instansi mana dan
kegiatan diklat apa yang Kades ikuti, papar Pak Alang Samad, sapaan
akrab Samad Sahari.
Senada dengan Samad Sahari, beberapa
Sekretaris Desa (Sekdes) mereka, pun menyampaikan hal sama. Jika mereka
Ibukota Provinsi karena urusan dinas atau diklat, tentu ada surat
pemberitahuan/undangan resmi yang mangkir di Kantor Desa. Atau ada surat
tugas dari instansi yang menugaskan mereka. Ini tidak ada sama sekali.
Ini bukan sekali, berulang kali mereka lakukan. Bahkan dalam sebulan,
minimal 1 atau 2 kali dari mereka ke luar kota atau ke Pontianak,
khususnya Kades desa kami, tutur Sekdes yang tak ingin disebutkan
identitasnya.
Alhasil, bukan prestasi kerja yang mereka
torehkan buat masyarakatnya, namun duka dan kecewa. Hal-hal yang
prinsip saja mereka abai, bagaimana pada hal-hal yang nonpronsip?
Kendati tidak semua dari mereka berkarakter demikian. Tentu ada
diantaranya menjadi pengikut. (Has)
Sumber berita: https://wartakayong.wordpress.com/2014/03/10/tujuh-kades-simpang-hilir-bolos-dalam-musrenbang-2015/
