Seminar Konservasi Orang Utan

Ir Bimbing Parjoko
HAMPIR disemua kawasan yang masih berhutan di Kabupaten Kayong Utara (kecuali kecamatan Pulau Maya dan Kepulauan Karimata) terdapat populasi Orangutan. Demikian terungkap di seminar dan lokakarya Konservasi Orangutan di Kayong Utara tahun 2013, bertempat di Hotel Mahkota Kayong Sukadana, Kamis (5/9).

“Hasil pencatatan yang dilakukan, setidaknya terdapat sekitar 2,500 individu Orangutan yang mendiami kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP),” ungkap Ir Bimbing Parjoko, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kayong Utara, membacakan kata sambutan dari Bupati Kayong Utara H Hildi Hamid, kemarin.
Pembangunan yang dilaksanakan pemerintah terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Dampak yang diharapkan dari pembangunan, semata-mata untuk kemakmuran rakyat. Proses pembangunan tersebut tidak terpisah dari ekses positif maupun negatif. Perubahan bentang alam dan berkurangnya keragaman hayati tidak bisa dihindarkan.secara ekologi membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan orangutang yang menjadi ikon nasional.
“Untuk kawasan di luar TNGP belum dilakukan survey populasi. Namun dari hasil pemantauan yang dilakukan, kemungkinan populasinya bisa lebih besar dari yang ada di kawasan TNGP,” ujarnya.
Ancaman terbesar bagi Orangutan, sambungnya, kerusakam habitat alaminya akibat konversi hutan untuk pertanian, perkebunan, pertambangan, dan pemukiman. Faktor-faktor ini secara dramatis meningkatkan terjadinya konflik langsung antara Orangutan dan manusia. Konflik ini terjadi sebagai akibat dari hilang dan terfragmentasinya habitat, berkontribusi terhadap cepatnya penurunan jumlah Orangutan.
Penurunan populasi Orangutan dipercepat dengan semakin cepatnya akses perekonomian dari habitat Orangutan ke wilayah lainnya.
“Upaya perlindungan terhadap Orangutan bukan hanya tanggungjawab pemerintah setempat atau lembaga yang menangani konservasi, melainkan merupakan tanggungjawab semua pihak yang bersifat holistik. Untuk itu, peran pemerintah daerah sangatlah dibutuhkan mengingat kebutuhan akan konservasi tidak mengenal batas,” tegasnya.
Satu di antara yang dapat diambil untuk penanggulangan konflik adalah dengan merelokasi Orangutan ke lokasi baru yang lebih aman dengan potensi yang baik, untuk menjamin keberlanjutan populasi orangutan. Upaya merelokasi memerlukan investasi yang besar untuk kegiatan penyelamatan, proses rehabilitasi, mencari lokasi yang cocok, dan akhirnya transportasi Orangutan ke lokasi baru.
“Untuk alasan ini, semua pemangku kepentingan harus bersedia bekerjasama dalam rangka mengantisipasi dan mencegah konflik manusia-Orangutan. Pesan yang paling dalam hal ini, konflik dapat dihindari dan dicegah dengan pengelolaan kawasan yang bertanggungjawab dengan perhatian yang memadai terhadap isu-isu ekologi dan perilaku Orangutan. (mik)

Sumber berita dan photo: http://www.pontianakpost.com/pro-kalbar/kayong-utara/8161-seminar-konservasi-orangutan.html
Lebih baru Lebih lama

ads